Rabu, 25 Juli 2012

LAPORAN TEKBEN (Pemecahan Dormansi Benih)


ACARA VI. PEMECAHAN DORMANSI BENIH



A.  Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat mempelajari beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memecahkan atau mempersingkat masa dormansi benih tanaman.

B.  Pelaksanaan Praktikum

1.   Waktu Praktikum           : Jum’at, 01 Juni 2012

2.   Tempat Praktikum          : Laboratorium Produksi Tanaman, Fakultas                                                                       

                                                  Pertanian, Universitas Mataram.



C.   Tinjauan Pustaka

       Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan (Sutopo, 1993).
       Dormansi adalah kondisi benih hidup yang tidak berkecambah walaupun kondisi lingkungan optimum untuk berkecambah. Dormansi benih dapat terjadi karena faktor fisik maupun fisiologi benih. Faktor fisik disebabkan oleh morfologi benih itu sendiri. Faktor benih dormansi secara fisiologi antara lain disebabkan karena embrio belum terbentuk sempurna. Benih yang mengalami dormansi ini harus disimpan sampai waktu tertentu. Setiap benih memiliki waktu yang berbeda-beda agar embrio terbentuk sempurna (Anonim, 2010).

Dormansi dapat dipandang sebagai salah satu keuntungan biologis dari benih dalam mengadaptasikan siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik musim maupun variasi-variasi yang kebetulan terjadi. Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya (Anonim, 2010).

Faktor-faktor yang menyebabakan hilangnya dormansi pada benih sangat bervariasi tergantung pada jenis tanaman dan tentun saja tipe dormansinya, antara lain yaitu: karena temperatur yang sangat rendah di musim dingin, perubahan temperature yang silih berganti, menipisnya kudlit biji, hilangnya kemampuan untuk menghasilkan zat-zat penghambat perkecambahan dan adanya kegiatan dari mikroorganisme (Sutopo, 1993).



D.  Bahan dan Alat Praktikum

1.    Alat Praktikum  :

-          Gunting atau potong kuku

-          Kertas amplas

-          Stopwatch

-          Panci alumunium

-          Kompor listrik

-          Beaker gelas

-          Cawan petri

2.    Bahan Praktikum:

-          Kertas merang

-          Benih sengon

-          Larutan H2SO4

-          Larutan HCl

-          Air panas 30ᵒC

-          Air panas 60ᵒC



E.  Cara Kerja

1.    Perlakuan Mekanis

a.    Contoh uji berupa benih sengon disiapkan sebanyak 75 butir untuk setiap perlakuan.

b.    Pada setiap benih dilakukan pengguntingan pada bagian ujung kulit benih (clipping) dengan menggunakan gunting kuku dan pengikisan kulit biji (scratching) dengan menggunakan kertas amplas.

c.    Benih dengan kedua perlakuan diuji daya kecambah dengan metode UDK (Uji Diatas Kertas). Masing-masing perlakuan diuji menggunakan 3 ulangan.

d.   Pengamatan dilakukan setelah seminggu kemudian.

2.    Perlakuan Perendaman

a.    Contoh uji berupa benih sengon disiapkan sebanyak 75 butir untuk  setiap perlakuan.

b.   Perlakuan perendaman menggunakan 4 jenis larutan dan air panas pada suhu 30o dan 60o. Larutan yang digunakan adalah larutan, H2SO4,  dan HCl.

c.    Sebanyak 25 butir benih direndam dalam tiap larutan selama 5 menit.

d.   Jumlah yang sama juga direndam dalam air panas pada suhu yang telah ditentukan dengan cara memasukkan benih ke dalam kantong kemudian direndam dalam air panas tersebut selama 10 menit.

e.    Benih dengan semua perlakuan perendaman diuji daya kecambah dengan metode UDK  menggunakan 3 ulangan.

f.    Pengamatan dilakukan seminggu kemudian.






F.   Hasil Pengamatan

Klp
Jenis Perlakuan
Ulangan
Tumbuh
Tidak  Tumbuh
1
Pemotongan
1
17
8


2
21
4


3
16
9
2
Pengamplasan
1
23
2


2
24
1


3
25
0
3
Air panas 30ᵒC
1
12
13


2
11
14


3
16
9
4
Air Panas 60ᵒC
1
14
11


2
14
11


3
9
16
5
H2SO4
1
3
22


2
6
19


3
7
18
6
Kontrol
1
8
17


2
8
17


3
5
20
7
HCL
1
7
18


2
6
19


3
11
14



G. Pembahasan

Dormansi merupakan kondisi benih yang dapat bersifat menguntungkan atau merugikan bagi pengguna benih tersebut. Ia akan menguntungkan apabila benih tersebut akan disimpan dalam waktu yang lama atau waktu pemakaiannya masih lama, sehingga dengan adanya dormansi maka benih tersebut akan dapat bertahan sampai saat ia akan ditanam dan kemampuan berkecambah atau berkembang masih ada. Sedangkan kerugian dirasakan oleh para petani atau pengguna benih dengan adanya dormansi ini adalah saat mereka akan menanam benih tersebut, ternyata benih yang bersangkutan masih dalam keadaan dormansi. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan memberikan perlakuan tertentu pada benih tersebut. Hal inilah yang dipraktikkan dalam praktikum kali ini.

Praktikum kali ini membahas mengenai pemecahan dormansi benih. Ada beberapa perlakuan yang dicobakan. Hasil dari setiap perlakuan tersebut seminggu setelah pemberian perlakuan dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan. Dari tabel tersebut dapat diketahui perlakuan yang dapat mempercepat proses dormansi benih.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan dengan cara pengamplasan dapat memberikan hasil yang paling baik dalam mematahkan dormansi benih dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini diketahui dari jumlah benih yang berkecambah dan tumbuh normal.



H.  Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa cara mematahkan dormansi benih yang paling baik adalah dengan pengamplasan, karena perlakuan ini menunjukkan hasil berupa jumlah benih berkecambah paling banyak dan pertumbuhannya normal.




Daftar Pustaka



Anonim, 2010.Penyimpanan dan Dormansi benih. http://marufah.blog.uns.ac.id.

Anonim, 2010. Dormansi Benih Tanaman. http://vansaka.blogspot.com

Sutopo L, 1993. Teknologi Benih. CV Rajawali Pers: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar